Author: Anggi D Kartika
Genre: Petualangan,Misteri
“Ayo cepat bangun!” suaranyaring itu hampir memutuskan telingaku. “kita harus cepat-cepat pergi,kalau tidak habislah kita” sisi berteriak menggoyang-goyangkan tubuhku. “iya-iya aku bangun” kataku sambil memuletkan badan.
Namaku Tika,saat ini aku dan teman-teman dari sekolah sedang berada di hutan Irian jaya. Kami berada disini untuk membantu tim SAR mencari korban dalam kecelakaan pesawat. Tepatnya sudah seminggu yang lalu kami disini.
Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Aku masih mencoba membuka mata yang masih terasa berat. Diluar kepala tim SAR sudah berteriak-teriak sampai-sampai musang di tengah hutanpun mendengarnya. Sisi menarikku dan membawaku kea rah datangnya suara. “Hari ini kita akan menyusuri hutan selatan” Kepala tim SAR mencoba menjelaskan. Tubuhnya yang tinggi dan gagah tampak begitu kokoh walaupun dari kejauhan. Kami dibagi menjadi 5 kelompok dan untungnya aku satu kelompok dengan Sisi. Setelah pembagian selesai kami langsung menuju ketempat yang sudah di tetapkan.
Ditengah-tengah perjalanan,kami beristirahat sejenak. Tiba-tiba Sisi dan dita menggoncang tubuhku. “Tik,ayo anterin aku buang Air Kecil” kata Dita mengajakku “Emang disini ada sungai?” kataku pada mereka berdua “Pasti ada,kita cari aja dulu” jawab Sisi “ enggak ah, nanti malah tersesat lho” kataku menolak “ ayolah!” kata Sisi memaksa “baiklah…”
Sekitar 15 menit kami mencari,dan akhirnya kami menemukan sebuah sungai kecil. Sisi dan Dita segera menghampiri sungai tersebut. Setelah selesai kami segera kembali guna bergabung dengan rombongan. 1,2 jam kami berjalan tak tentu arah. Dita hampir menangis karenanya, Sisi mencoba menenangkannya. Aku berusaha mencari-cari tanda yang telah kami tinggalkan sebelum berangkat tadi.
Hampir 5 jam kami berjalan dan tak menemukan apapun. Emosiku tak tertahan lagi,air mataku menetes tak terkira. Kami hampir putus asa. Namun,Sisi dan dita mencoba meyakinkanku. Kami terus berjalan dan berjalan. Terus mencari tanpa henti. Hutan semakin lama semakin gelap. Yang terlihat hanya kabut hitam yang menutupi seluruh hutan. Tanpa sadar Dita terperosok dalam jurang yang sangat dalam. Aku dan Sisi mencoba membantunya. Namun,kami bertiga malah terperosok ke dalam jurang tersebut. “Kita dimana?” tanya Dita panic “Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Sisi. “Percuma kita teriak-teriak tak aka nada yang mendengar” kataku putus asa.
Beberapa lama kami duduk terdiam di tengah kegelapan. Sampai akhirnya suara Sisi memecahkan keheningan. “Sampai kapan kita ma uterus kayak gini?” bentaknya padaku. “apa kalian mau mat disini?” . “lalu,kita mau berbuat apa,tak ada jalan kelua. Naik keatas pun percuma” balasku penuh emosi. Suasana semakin memanas hingga akhirnya dita meredam emosiku dan Sisi “Perkelahian gak akan nyelesaiin masalah”katanya tegas. “lebih baik kita telusuri saja jalan yang ada di jurang ini” katanya memperjelas “kau gila apa,bagaimana jika disana ada hewan buas,bisa mati kita” kataku menolak. “kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba” kata Dita meyakinkanku. Dengan sedikit gemetar karena takut,aku menuruti kata Dita. Kami berjalan menyusuri gelapnya gua. Dan tiba-tiba Sisi berteriak “aku melihat seberkas cahaya di ujung sana” “benarkah?” kataku dan Dita bersamaan. “kalau begitu ayo kita percepat langkah agar kita bisa selamat” teriak Dita member semangat “tunggu….” Potongku “tidak adakah jalan lain selain jalan itu,disana gelap. Bagaimana jika disana ada monster dan kita dimakan” “sudahlah ayo” Sisi menarikku sekuat tenaga.
Pikiranku mulai memikirkan yang tidak-tidak. Kakiku gemetar,keringat dingin keluar dari tubuhku. Tiba-tiba segerombolan makhluk hitam menghadang jalan kami. Tingginya kira-kira hampir 2 meter. Tubuhnya hitam besar menakutkan. Jumlah mereka sekitar 3 monster. Apa mereka ini penolongku,pikirku dalam hati. Angan-angan itu lenyap seketika ketika wajah dari ke 3 monster tersebut melihat kami dengan tatapan tajam sambil berkata “rupanya ada 3 daging segar yang dating kali ini” 3 daging segar aku berteriak dalam hati. Aku berbisik ke arah Sisi dan dita “matilah kita,makhluk-makhluk ini akan memakan kita” Sisi menjawab dengan seketika “setelah aku hitung sampai 3 lari sekencang mingkin. 1…..2…..3…. lariiiii” kami berlari sekuat tenaga. Di belakang kami para monster tersebut mengejar.
“Aduh!” teriak salah seorang. Aku menoleh kebelakang. “Sisi” teriakku. Ia terjepit akar-akar pohon yang muncul di atas tanah. “Dita,Tika,Tolong” teraknya memohon. Kulihat dibelakang monster-monster tersebut semakin mendekat. Aku dan Dita mencoba menarik sekuat tenaga. Monster-monster itu semakin mendekat,ayolah keluhku dalam hati. Kami terus berusaha dab terus berusaha. Hingga aku melihat para monster itu hanya berjarak 1 meter. Mereka tersenyum bangga karena telah menemukan kami. Aku mulai putus asa,tapi Dita dan Sisi masih terus berusaha.
Para monster tersebut ada di hadapan kami. Aku mencoba melawannya,sedangkan Dita masih sibuk membantu Sisi. Aku mencoba mencuri perhatian ketiga monster tersebut. Sisi Dita cepatlah gumamku dalam hati. Dan akhirnya terdengar suara “terlepas”. “Tika ayo cepat lari “ teriak seseorang padaku. Aku mencoba berlari namun terlambat. Tubuhku terangkat keatas,dan tiba-tiba aku melayang. Kulihat kebelakang monster-monster ittu menangkapku “Toloooong” teriakku dengan keras. “Sisi Dita tolong aku”. Seketika itu juga Sisi dan Dita menoleh. Dita mencoba melawan monster-monster itu. Diambilnya bongkahan kayu yang amat besar yang ada di dekatnya. Dilemparkannya bongkahan kayu tersebut kearah para monster itu. Namun,belum sampai mengenai monster-monster itu,kayu tersebut sudah ditampel oleh monster yang lain. Kayu tersebut patah dan tubuh Dita pun terhempas jauh. Sekilas aku melihat Sisi. Wajahya pucat pasi dan tubuhnya gemetaran akibat perbuatan Dita.
“lariiii” teriakku pada teman-teman. Sisi masih membantu Dita untuk berdiri. Kami terus berlari dan berlari tanpan henti. Sampai akhirnya,Sisi menarikku dan Dita ke sebuah ruangan di gua itu untuk bersembunyi. “gelapnya” desah Dita kepadaku. Kurogoh senter yang ada ditasku. Aku mengumpulkan kayu yang berserakan disana. Setelah terkumpul banyak kayu-kayu tersebut kami bakar. Hangat,pikirku. Tiba-tiba saat aku bersandar di dinding gua,aku tak sengaja menyenggol sesuatu. Dengan seketika aku langsung mengambil senterku dan langsung menyorotkannya kea rah benda tersebut. “ada monster lagi” desahku terkejut. Sisi dan Dita langsung mengalihkan pandangannya padaku. Dita hampir berteriak ketakutan. Aku dan Sisi mecoba membungkamnya. “Diamlah,atau dia akan terbangun” kataku mengancam.
Entah karena apa, monster tersebut bangun sambil berteriak “pannaaaasss paannnaaass” aku,Sisi dan Ditamelihatnya hampir pingsan. Kulihat tubuhnya makin mengkerut. Matanya hampir copot. Dan akhirnya dia mati. “Apiii” aku dan Sisi sontak berkata. “apa hubungannya ?” tanya Dita tak mengerti. “kelemahan monster itu adalah api” kataku memperjelas. Aku,Sisi,dan Dita merencanakan sesuatu.
15 menit kemudian,semua rencana kami telah usai. Ku pancing monster-monster itu. Kulempari mereka batu sambil berteriak “hei,makhluk bodoh kesini kau. Aku tidak takut padamu.” Kataku mengejek “kurang ajar” kata salah satu monster kesal. Mereka mengejarku. Aku lari dengan kencang menuju teman-temanku. Kami melempari mereka dengan obor yang telah kami buat. Satu obor telah mengenai salah satu monster. “masih ada dua lagi” teriakku pada teman-temanku.
Obor kedua langsung ami lempar dan
kena. Satu lagi monster lenyap. Bagus tinggal satu lagi pikirku gembira. Belmsampai
kami melempar obornya monster itu sudah lari terbirit-birit. “akhirnya selesai
juga” desah Sisi kepadaku. Kamipun melnjutkan perjalanan.
“cahaya” ada satu suara
terngiang ditelingaku. “ada cahaya…ada cahaya…” dita berteriak kepadaku. Kami berlari
menghampiri datangnya cahaya. Bebas akhirnya kami selamat,pikirku dalam hati. Setelah
sampai dipusat cahaya ternyata kami dimanjakan dengan pemandangan yang sangat
indah. Terdapat sungai di dalam gua ini. Sisi menarik-narik bajuku. “ada perhu
disana kita bisa menggunakannya” “iya betul “ kataku padanya.
Kami mendayung dan terus
mendayung. Sampai akhirnya aitsemakin kencang. Aku heran mengapa arus air tiba-tiba
menjadi sangat kencang. “air terjun” Dita berteriak. “dayung kea rah sebaliknya”
aku membalas. Dengan sekuat tenaga kami mendayung. Namu kekuatan kami tidak
sebanding dengan arus air yang mengalir. Akhirnya,arus air membawa kami ke air
terjun.
Kami tenggelam. Ribuan bahkan
ratusan ribu liter air menenggelamkan kami. Aku mencoba naik ke permukaan. Kutarik
teman-temanku dan aku berenang mencari tepi. Tak ada tepi pikirku. Aku terus
berenang dan berenang. Sampai-sampai mataku berkunang-kunang. Aku sudah tidak
kuat lagi. Kurasakan genggamanku lepas. Dan teman-temanku hanyun akupun ikut
hanyut bersama mereka.
“Tika,Tika bangun” suara hangat tersebut
membangunkanku. “aku dimana?” aku langsung bertanya. Aku tak ingat apapun yang
ku ingat hanya ketika aku terhanyut dalam air terjun. “Sisi,Dita kemana mereka?”
sontak aku bertanya. Kulihat didepanku hanya ada ayahku yang sangat cemas. “mereka
ada ditenda sebelah” katanya sambil tersenyum. Aku langsung beranjak dari
tempat tidurku dan menghampiri mereka.
Kulihat didalam tenda
sepi. Kemana mereka? “dor” suara itu mengagetkanku. “mau cari sapa non?” tanya
Sisi padaku bercanda. Kulihat meeka tampak baik. Ayahku menghampiri kami
bertiga yang sedang bercakap-cakap. Hari ini kami dapat pelajaran yang sangat
berharga dan mungkin tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
~The End~


0 komentar:
Posting Komentar