Senin, 06 Mei 2013

Not Him,But you

Diposting oleh Unknown di 05.36




Author : Anggi D Kartika
Genre : Melodrama, Romance





             Setiap orang pasti pernah merasakan rasa ini. Ketika selama 6 tahun berada dalam lingkungan yang sama dan sekarang mulai menapaki lingkungan lain. Rasa itu aku rasakan ketika aku lulus dari SD. Perasaan senang karenaakan menempuh jenjang yang lebih tinggi. Aku melihat seragam merah putihku,sekarang aku sudah tak memakainya lagi. Betapa bahagianya aku ketika besok aku telah memakai baju biru putih. Pagi ini,aku mulai memasuki kelas baruku. Suasananya tak jauh berbeda dengan kelas waktu aku duduk di SD. Teman sebangkuku adalah temanku dari SD jadi aku merasa lebih nyaman disana. Aku melihat dua bangku di hadapanku. Aku melihat dua orang anak laki-laki yang tingginya tak jauh berbeda dengan ku. Mereka menoleh kearah ku dan temanku. Kami berempat mulai bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri. Dari situlah kami berempat mulai dekat. Aku,Silvi,Fatur,Dian kami berempat bersahabat. Kami sangat akrab. Tertawa bersama, bahkan sudah seperti saudara.
                  Pertemanan kami mulai terasa janggal ketika Fatur mulai sering mengirimi aku pesan singkat.terlalu sering untuk ukuran seorang teman. Dia mulai menunjukkan rasa perhatiannya padaku. Sedikit demi sedikit aku mulai tak nyaman berada di dekatnya. Aku mulai menyangka kalau dia menyukaiku. Aku mencoba mengabaikan semua perasaan yang hinggap di hatiku. Berkali-kali Fatur ingin meyatakan perasaannya padaku,aku mencoba menghindarinya. Peristiwa yan tak ku harapkan akhinya terjadi. Ketika akhir semester  fatur menyatakan cintanya padaku. Kejadian itu bermula ketika aku diajak oleh Silvi untuk menyelesaikan tugas akhir yang diberikan oleh guru. Satu jam lebih kita berdua mengerjakan tugas-tugas itu.namun tiba-tiba Silvi berpamitan padaku untuk pergi ke kamar kecil sebentar. “Karin,gue ke kamar kecil bentar ya” katanya padaku “iya udah cepetan gih sono” jawabku padanya. Tiba-tiba dari pintu ada bayangan yang lama-kelamaan semakin mendekat. Bayangan itu mengarah ke arahku. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang ada dihadapanku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat bahwa yang ada dihadapanku adalah Fatur. Dengan mata melotot aku memperhatikan dia berbicara kepadaku. “Karin, sendirian aja” katanya sambil terbata-bata “eh… iya tadi sih sama Silivi,tau tuh katanya dia mau ke kamar kecil” jawabku kaku “ehm.. boleh duduk disebelahmu?” tanyanya sambil menghampiri ku “silahkan” kataku sungkan “Rin,boleh gue ngomong sesuatu?” tanyanya “ngomong apaan?” kataku sambil menatapnya “udah dari dulu gue pingin ngomong ini ke loe, gue suka sama loe Rin”  “apaan sih” candaku kepadanya “serius Rin,gue beneran. Loe mau nggak jadi pacar gue” tanyanya padaku. Aku hanya terdiam tak tahu harus bagaimana. 15 menit kami diam tanpa kata. Akhirnya suaraku memecahkan keheningan. Aku mulai mengatakan semuanya. “Tur,jujur perasaan gue dari dulu sampe’ sekarang gak berubah gue Cuma nganggep loe sebagai sahabat gue sama kayak Silvi dan Dian so.. maafin gue ya” jawabku sambil menundukan kepala. Fatur meninggalkanku.
                  Beberapa saat kemudian,Sivi dating sambil berkata “jahat loe rin “ dia langsung memegang tasnya lalu berlari keluar. Sejak saat itu persahabatan kami berempat lama kelamaan hancur. Aku, Silvi,Dian,dan Fatur mulai berpisah satu persatu. Hal ini berlanjut sampai kami duduk di kelas 9. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku hars satu kelas lagi dengan Dian dan Fatur. Mau tidak mau aku harus berteman lagi dengan mereka. Seiring berjalannya waaktu Dian mulai melupakan kejadian 2 tahun lalu. Dan dia sekarang berteman baik denganku lagi. Sedangkan Fatur sepertinya masih kaku terhadapku. Aku mulai menjalani hidupku dengan sahabat-sahabat baruku. Saat pertengahan semester 1 guru bahasa jawaku member tugas untuk membuat drama bahasa jawa. Aku dan ketiga sahabatku berada dalam 1 kelompok. Tapi,kami masih butuh 3 orang laki-laki untuk memerankan beberapa peran. Dan akhirnya teman-temanku sudah menentukannya salah satu dari ketiga laki-laki tersebut adalah Fatur. Dan sekarang aku berada dalam kelompok yang sama dengan Fatur. Walaupun bagiku itu biasa saja, tapi aku tidak tahu apakah perasaan ini sama dengannya. 1 minggu lamanya kita selalu bertemu untuk latihan. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimna tapi aku merasa ketika fatur melihat kearahku seperti adayang berbeda dengan tatapannya. Semoga hal aku bayangkan tidak terjadi lagi kali ini. Karena,hatiku tlah diisi oleh orang lain. Walaupun kurasa hanya aku yang merasakannya, tapi aku merasa ada perasaan yang lain ketika aku berada di isinya. Sisi di hatiku tlah diisi oleh sesosok orang yang bagiku sangat perfect. Vake, begitulah teman-temanku memanggilnya. Orang yang telah melelehkan hatiku yang kaku ini. Dia tak penah berbuat banyak, tapi itulah yang membuat aku suka. Dia sering mengejekku seakan-akan aku ini orang paling jelek yang pernah diciptakan oleh tuhan. Menurut sahabatku, dia mungkin suka padaku. Tapi itu tidak mungkin. Dengan segala kejadian itu aku makin ke-gr an. Mungkin ini aneh,tapi rasa ke-gr an itulah yang membuat aku suka, rasa itu yang membuat aku ketagihan suka padanya.
                 

Seminggu berlalu, pementasan drama telah usai digelar dan hati ini amat sangat lega. Aku tidak akan dipusingkan lagi dengan hal-hal yang menurutku kurang penting. Namun,masalah kembali terjadi. Dian mulai menjodoh-jodohkan aku dengan Fatur. Dan tiba-tiba suatu malam Fatur mengirimi ku sebuah pesan singkat. Ia mulai mencoba mendekatiku. Aku mencoba tak mempedulikannya. Satu,dua hari dia mendekatiku. Mulai berbicara padaku walau topiknya tiak begitu penting bagiku. Dan tibalah pada saat itu. Hari itu hari Persahabatan, kebetulan kelasku mengadakan perayaan bertukar cokelat. Aku memberikan cokela ku pada ketika sahabatku dan satu lagi untuk Dian. Tinggal satu cokelat lagi yang ada di genggamanku. Aku berniat memberikannya pada Vake. Tapi dia masih sibuk dengan teman-temannya yang lain. Akhirnya, aku menaruh cokelat itu di atas mejanya. Aku melihat kearah Vake sambil tersenyum tipis. Aku melihat sorot matanya yang iseng-iseng melirik ke arah ku. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang menarik tangan ku. Aku menoleh kaget. Kulihat yang disana adalah Dian. Ia menarikku ke depan kelas. Disana berdiri Fatur sambil membawa bunga. “untukmu” katanya sambil tersenyum “thank’s” kataku ketus “Karin gue tau kalo dulu loe udah pernah bilang kalo loe gak suka sama gue,tapi please biarkan kita jalanin dulu semuanya” katanya memohon padaku. Aku hanya bisa terdiam. Aku melirik kearah Vake. Aku melihatnya berjalan menuju bangkunya. Diambilnya cokelat pemberianku. Lalu dia berjalan keluar kelas. Aku kembali menatap Fatur dalam hati aku berkata not you but him. Kujatuhkan bunga pemberian Fatur. Aku berjalan lesu ke bangkuku. Yang kuharapkan ada disana saat itu bukan kamu tapi dia yang disana. Yang kuharapkan mengatakan kata-kata manis itu bukan kamu tapi dia yang disana. Tapi aku hanya bisa memandanginya dari jauh. Sambil berkata biarkan rasa di dalam hatiku ini tetap begini besok,lusa.atau bahkan selamanya.


~The end~

0 komentar:

Posting Komentar

 

anggiD's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos