
Author : Anggi D Kartika
Genre : Melodrama, Romance
Setiap orang pasti pernah merasakan rasa ini. Ketika
selama 6 tahun berada dalam lingkungan yang sama dan sekarang mulai menapaki
lingkungan lain. Rasa itu aku rasakan ketika aku lulus dari SD. Perasaan senang
karenaakan menempuh jenjang yang lebih tinggi. Aku melihat seragam merah
putihku,sekarang aku sudah tak memakainya lagi. Betapa bahagianya aku ketika
besok aku telah memakai baju biru putih. Pagi ini,aku mulai memasuki kelas
baruku. Suasananya tak jauh berbeda dengan kelas waktu aku duduk di SD. Teman
sebangkuku adalah temanku dari SD jadi aku merasa lebih nyaman disana. Aku
melihat dua bangku di hadapanku. Aku melihat dua orang anak laki-laki yang
tingginya tak jauh berbeda dengan ku. Mereka menoleh kearah ku dan temanku.
Kami berempat mulai bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri. Dari situlah
kami berempat mulai dekat. Aku,Silvi,Fatur,Dian kami berempat bersahabat. Kami
sangat akrab. Tertawa bersama, bahkan sudah seperti saudara.
Pertemanan kami mulai terasa janggal
ketika Fatur mulai sering mengirimi aku pesan singkat.terlalu sering untuk
ukuran seorang teman. Dia mulai menunjukkan rasa perhatiannya padaku. Sedikit
demi sedikit aku mulai tak nyaman berada di dekatnya. Aku mulai menyangka kalau
dia menyukaiku. Aku mencoba mengabaikan semua perasaan yang hinggap di hatiku.
Berkali-kali Fatur ingin meyatakan perasaannya padaku,aku mencoba
menghindarinya. Peristiwa yan tak ku harapkan akhinya terjadi. Ketika akhir
semester fatur menyatakan cintanya
padaku. Kejadian itu bermula ketika aku diajak oleh Silvi untuk menyelesaikan
tugas akhir yang diberikan oleh guru. Satu jam lebih kita berdua mengerjakan
tugas-tugas itu.namun tiba-tiba Silvi berpamitan padaku untuk pergi ke kamar
kecil sebentar. “Karin,gue ke kamar kecil bentar ya” katanya padaku “iya udah
cepetan gih sono” jawabku padanya. Tiba-tiba dari pintu ada bayangan yang
lama-kelamaan semakin mendekat. Bayangan itu mengarah ke arahku. Aku
mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang ada dihadapanku. Betapa
terkejutnya aku ketika melihat bahwa yang ada dihadapanku adalah Fatur. Dengan
mata melotot aku memperhatikan dia berbicara kepadaku. “Karin, sendirian aja”
katanya sambil terbata-bata “eh… iya tadi sih sama Silivi,tau tuh katanya dia
mau ke kamar kecil” jawabku kaku “ehm.. boleh duduk disebelahmu?” tanyanya
sambil menghampiri ku “silahkan” kataku sungkan “Rin,boleh gue ngomong
sesuatu?” tanyanya “ngomong apaan?” kataku sambil menatapnya “udah dari dulu
gue pingin ngomong ini ke loe, gue suka sama loe Rin” “apaan sih” candaku kepadanya “serius Rin,gue
beneran. Loe mau nggak jadi pacar gue” tanyanya padaku. Aku hanya terdiam tak
tahu harus bagaimana. 15 menit kami diam tanpa kata. Akhirnya suaraku
memecahkan keheningan. Aku mulai mengatakan semuanya. “Tur,jujur perasaan gue
dari dulu sampe’ sekarang gak berubah gue Cuma nganggep loe sebagai sahabat gue
sama kayak Silvi dan Dian so.. maafin gue ya” jawabku sambil menundukan kepala.
Fatur meninggalkanku.
Beberapa saat kemudian,Sivi dating
sambil berkata “jahat loe rin “ dia langsung memegang tasnya lalu berlari
keluar. Sejak saat itu persahabatan kami berempat lama kelamaan hancur. Aku,
Silvi,Dian,dan Fatur mulai berpisah satu persatu. Hal ini berlanjut sampai kami
duduk di kelas 9. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku hars satu kelas lagi
dengan Dian dan Fatur. Mau tidak mau aku harus berteman lagi dengan mereka.
Seiring berjalannya waaktu Dian mulai melupakan kejadian 2 tahun lalu. Dan dia
sekarang berteman baik denganku lagi. Sedangkan Fatur sepertinya masih kaku
terhadapku. Aku mulai menjalani hidupku dengan sahabat-sahabat baruku. Saat
pertengahan semester 1 guru bahasa jawaku member tugas untuk membuat drama
bahasa jawa. Aku dan ketiga sahabatku berada dalam 1 kelompok. Tapi,kami masih
butuh 3 orang laki-laki untuk memerankan beberapa peran. Dan akhirnya
teman-temanku sudah menentukannya salah satu dari ketiga laki-laki tersebut
adalah Fatur. Dan sekarang aku berada dalam kelompok yang sama dengan Fatur.
Walaupun bagiku itu biasa saja, tapi aku tidak tahu apakah perasaan ini sama
dengannya. 1 minggu lamanya kita selalu bertemu untuk latihan. Entah hanya
perasaanku saja atau bagaimna tapi aku merasa ketika fatur melihat kearahku
seperti adayang berbeda dengan tatapannya. Semoga hal aku bayangkan tidak
terjadi lagi kali ini. Karena,hatiku tlah diisi oleh orang lain. Walaupun
kurasa hanya aku yang merasakannya, tapi aku merasa ada perasaan yang lain
ketika aku berada di isinya. Sisi di hatiku tlah diisi oleh sesosok orang yang
bagiku sangat perfect. Vake, begitulah teman-temanku memanggilnya. Orang yang
telah melelehkan hatiku yang kaku ini. Dia tak penah berbuat banyak, tapi
itulah yang membuat aku suka. Dia sering mengejekku seakan-akan aku ini orang
paling jelek yang pernah diciptakan oleh tuhan. Menurut sahabatku, dia mungkin
suka padaku. Tapi itu tidak mungkin. Dengan segala kejadian itu aku makin ke-gr
an. Mungkin ini aneh,tapi rasa ke-gr an itulah yang membuat aku suka, rasa itu
yang membuat aku ketagihan suka padanya.
Seminggu
berlalu, pementasan drama telah usai digelar dan hati ini amat sangat lega. Aku
tidak akan dipusingkan lagi dengan hal-hal yang menurutku kurang penting.
Namun,masalah kembali terjadi. Dian mulai menjodoh-jodohkan aku dengan Fatur.
Dan tiba-tiba suatu malam Fatur mengirimi ku sebuah pesan singkat. Ia mulai
mencoba mendekatiku. Aku mencoba tak mempedulikannya. Satu,dua hari dia
mendekatiku. Mulai berbicara padaku walau topiknya tiak begitu penting bagiku.
Dan tibalah pada saat itu. Hari itu hari Persahabatan, kebetulan kelasku
mengadakan perayaan bertukar cokelat. Aku memberikan cokela ku pada ketika
sahabatku dan satu lagi untuk Dian. Tinggal satu cokelat lagi yang ada di
genggamanku. Aku berniat memberikannya pada Vake. Tapi dia masih sibuk dengan
teman-temannya yang lain. Akhirnya, aku menaruh cokelat itu di atas mejanya.
Aku melihat kearah Vake sambil tersenyum tipis. Aku melihat sorot matanya yang
iseng-iseng melirik ke arah ku. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang
menarik tangan ku. Aku menoleh kaget. Kulihat yang disana adalah Dian. Ia
menarikku ke depan kelas. Disana berdiri Fatur sambil membawa bunga. “untukmu”
katanya sambil tersenyum “thank’s” kataku ketus “Karin gue tau kalo dulu loe
udah pernah bilang kalo loe gak suka sama gue,tapi please biarkan kita jalanin
dulu semuanya” katanya memohon padaku. Aku hanya bisa terdiam. Aku melirik
kearah Vake. Aku melihatnya berjalan menuju bangkunya. Diambilnya cokelat
pemberianku. Lalu dia berjalan keluar kelas. Aku kembali menatap Fatur dalam
hati aku berkata not you but him. Kujatuhkan bunga pemberian Fatur. Aku
berjalan lesu ke bangkuku. Yang kuharapkan ada disana saat itu bukan kamu tapi
dia yang disana. Yang kuharapkan mengatakan kata-kata manis itu bukan kamu tapi
dia yang disana. Tapi aku hanya bisa memandanginya dari jauh. Sambil berkata
biarkan rasa di dalam hatiku ini tetap begini besok,lusa.atau bahkan selamanya.
~The end~

0 komentar:
Posting Komentar